Malang Creative Fusion

JPO KOTA MALANG MENYALA

JPO MENYALA — DARI PASSIVE SPACE MENJADI CREATIVE SPACE

Di tengah kawasan Alun-Alun Kota Malang, terdapat ruang-ruang kota yang setiap hari dilalui banyak orang, tetapi belum sepenuhnya mendapatkan perhatian. Salah satunya adalah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).
Hari ini kita masih menjumpai kondisi JPO yang kotor, kurang terawat, bahkan di beberapa titik menimbulkan bau tidak sedap. Kondisi tersebut bukan hanya persoalan kebersihan. Bagi kami, ini adalah tanda bahwa ada ruang kota yang kehilangan aktivitas positifnya.

Malang Creative Fusion (MCF) bersama kawan-kawan seniman, komunitas, dan berbagai elemen Kota Malang ingin merespons kondisi tersebut dengan sebuah pendekatan sederhana: jangan hanya melihat ruang yang bermasalah, tetapi hadir dan menghidupkannya kembali.

Kami menyebut ruang-ruang seperti ini sebagai passive space—ruang yang secara fisik ada, tetapi belum memiliki aktivitas yang membuat masyarakat merasa memiliki, menjaga, dan memanfaatkannya secara positif.
Karena itu, sebelum berbicara tentang karya seni dan pameran, langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan ruangnya terlebih dahulu.

Membersihkan sampah, mengurangi kesan kumuh, membangun kembali kepedulian, kemudian perlahan menghadirkan aktivitas kreatif di dalamnya.

Dari ruang yang sebelumnya hanya menjadi tempat orang melintas, JPO dapat kita respons menjadi creative space: tempat berkesenian, ruang pamer karya, ruang interaksi, ruang berekspresi, sekaligus ruang baru bagi masyarakat untuk menikmati kreativitas Kota Malang.
Aktivasi ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Malang Menyala – Festival Mbois XI, sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat melihat kembali kota dan ruang publiknya melalui perspektif kreativitas, kolaborasi, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Gerakan ini tidak dikerjakan sendirian.

Komunitas, seniman, akademisi, pemerintah, media, aggregator, institusi keuangan, dunia usaha, dan berbagai stakeholder bergerak bersama. Karena membangun kota kreatif bukan hanya tentang membuat festival atau menghadirkan karya, tetapi tentang bagaimana seluruh unsur kota mempunyai keberanian untuk turun tangan, berkolaborasi, dan merawat kotanya bersama-sama.

Kami percaya, sebuah ruang akan berubah ketika manusia kembali hadir di dalamnya.

Ketika ruang yang sebelumnya pasif mulai diisi dengan karya, perjumpaan, percakapan, dan aktivitas positif, perlahan akan tumbuh rasa memiliki. Dari rasa memiliki itulah muncul kesadaran untuk menjaga.

JPO Alun-Alun hanyalah satu titik.

Ke depan, Malang Creative Fusion ingin terus merespons berbagai negative space dan passive space lainnya di Kota Malang. Ruang-ruang yang terlupakan dapat kita hidupkan kembali melalui seni, desain, kreativitas, teknologi, budaya, dan partisipasi masyarakat.

Karena Malang Menyala bukan sekadar menyalakan cahaya.

Malang Menyala adalah tentang menyalakan kembali ruangnya, kreativitasnya, kepeduliannya, dan manusianya.

Dari ruang pasif menjadi ruang aktif.
Dari ruang yang diabaikan menjadi ruang yang dirawat.
Dari tempat melintas menjadi tempat berkarya.

Kita tidak hanya menggunakan kota.
Kita membersamai, merawat, dan menghidupkan kota.

JPO MENYALA.
RUANGNYA HIDUP, WARGANYA TERLIBAT, KOTANYA LESTARI.

Dadik Wahyu Chang
Koordinator Malang Creative Fusion

Posting Komentar