Malang Creative Fusion

MALANG KOTA KREATIF DUNIA ?


Apakah Benar Kota Malang Layak Sebagai Kota Kreatif ?

Belajar dari Korea Selatan, Dari Krisis Menuju Eksistensi Global,
Krisis moneter 1998 bagi Korea Selatan bukan sekadar bencana finansial, melainkan titik balik fundamental yang mengubah DNA ekonomi mereka. Di tengah reruntuhan ekonomi konvensional, Seoul mengambil langkah berani yang kini dikenal sebagai "The Korean Wave" (Hallyu). Mereka menyadari bahwa komoditas fisik bisa habis dan pabrik bisa tutup, namun imajinasi dan budaya adalah sumber daya tanpa batas.
1. Pergeseran Paradigma: "Mind-facturing" & Ekonomi Pengalaman
Korea Selatan melakukan pergeseran dari kekuatan baja dan kapal menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Mereka tidak lagi hanya menjual produk, tetapi menjual narasi dan gaya hidup. Ketika dunia mengonsumsi K-Drama atau K-Pop, terjadi efek domino pada ekspor produk turunan (K-Beauty, K-Food) dan peningkatan Soft Power negara.
Dalam ekonomi kreatif, nilai tambah terletak pada pengalaman (experience economy). Konsumen masa kini menghargai "cerita" di balik sebuah produk.
2. Revitalisasi Kota sebagai Panggung Kreatif
Dampak ekonomi kreatif paling nyata terlihat pada skala perkotaan. Kota-kota seperti Seoul mengubah gudang tua (kawasan Seongsu-dong) menjadi distrik seni. Kota tidak lagi hanya tempat bekerja, tetapi ekosistem yang menarik the creative class—desainer, pengembang aplikasi, dan seniman—yang meningkatkan pendapatan daerah melalui konsumsi lokal yang berkualitas.

3. Malang Sebagai Kota Kreatif Indonesia, 
Malang memiliki kemiripan semangat dengan Seoul. Jika Seoul dipicu oleh krisis, Malang menguat karena kolaborasi akar rumput yang kini diakui secara formal.
Rekam Jejak dan Predikat
Kota Malang telah ditetapkan sebagai Kota Kreatif Indonesia oleh Kemenparekraf, dengan subsektor Gim dan Aplikasi sebagai penggerak utama. Di level internasional, melalui penetapan kota kreatif dunia media art dari jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN), Malang telah memposisikan diri sebagai pengekspor aset digital global. Kehadiran Malang Creative Center (MCC) menjadi simbol fisik "pabrik" kolaborasi lintas subsektor.
Mengapa Malang Berhasil?
Talenta Melimpah: Dukungan lebih dari 50 perguruan tinggi menciptakan suplai SDM muda yang tak terbatas.
Kekuatan Komunitas: Forum seperti Malang Creative Fusion (MCF) menjadi jembatan antara pelaku kreatif dengan kebijakan publik, ( MCF BUKAN KOMUNITAS MURNI )- MCF adalah forum jejaring lintas komunitas kreatif di Kota Malang.
Efek Ekonomi : Kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDRB terus meningkat secara signifikan pasca-pandemi melalui efisiensi digital.
4. Urgensi Regulasi: Arah Kebijakan Prioritas
Untuk menjaga keberlanjutan (sustainability) status Kota Kreatif, diperlukan langkah taktis pemerintah melalui regulasi yang memampukan (enabling), bukan mengekang.
A. Perda Ekosistem Ekonomi Kreatif
Pemerintah perlu memperkuat payung hukum yang mengatur insentif pajak bagi startup lokal dan mempermudah pemanfaatan aset daerah (seperti ruang publik/gedung pemerintah) untuk inkubasi kreativitas tanpa birokrasi yang rumit.
B. Perlindungan Kekayaan Intelektual (IP)
Seperti Korea yang protektif terhadap IP, Malang memerlukan kebijakan:
Fasilitasi pendaftaran HAKI kolektif bagi kreator lokal.
Mendorong skema IP Financing, di mana karya kreatif bisa dijadikan agunan modal bank. merujuk pada PP Agunan IP merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2022 tentang Perlindungan dan Pengembangan Ekonomi Kreatif, yang mengatur Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai agunan atau jaminan kredit untuk mempermudah pelaku ekonomi kreatif (ekraf) mendapatkan pembiayaan dari lembaga keuangan, memberikan kepastian hukum, dan mendorong pertumbuhan sektor ekraf di Indonesia, seperti film, musik, kuliner, dan event. dan ( tesis saya juga tentang ini, semoga aturan ini segera terealisasikan )
C. Kurikulum Literasi & Urban Branding
Integrasi kurikulum antara industri kreatif dengan kampus (link and match) sangat mendesak. Selain itu, pemerintah harus menjadi "Agensi Branding" yang menjamin konsistensi citra visual kota serta mendukung pendanaan delegasi kreatif Malang di panggung internasional.
5. Masa Depan adalah Imajinasi
Belajar dari Korea Selatan, ekonomi kreatif adalah asuransi terbaik menghadapi ketidakpastian global. Jika Korea menjual "K-Life", Malang kini bergerak menjual "Creative Life"—sebuah perpaduan antara warisan budaya (heritage) dan teknologi masa depan.
Kekuatan Malang ada pada manusianya. Tugas regulasi adalah memastikan "panggung" yang sudah dibangun memiliki lampu yang tetap menyala dan ekosistem yang terus bertumbuh secara mandiri.
Salam Sehat & Positif
DWC - Dadik Wahyu Chang
BRAND & IDENTITY STRATEGIST PARTNER
website : dadikwahyuchang.id

Posting Komentar